Friday, 8 August 2014

Air Mata Kesedihan

Oleh: Pigeon
Di tengah-tengah lautan kebimbanganku
Malam-malam yang kelam menenggelamkan hatiku
Suara-suara manusia bersahutan menawarkan obat pelipur lara
Apakah bedanya pohon kurma yang tergegun seribu bahasa
Dengan pohon Bidara yang tumbuh di pinggir jalanan?
Bukankah di atas keramaian ada keramaian
Dan di dalam kesenduan ada kesedihan
Bawakanlah aku kabut dingin wahai merpati putih
Di hari-hariku yang penuh kegersangan
Sesungguhnya jiwa ini menjerit memohon belas kasihan
Tapi tak seorang juapun yang mengerti
Pada hamba yang merelakan diri dan menderita
Hari demi hari berjalan mundur
Menghantarkan pada suatu titik
Dimana tak ada lagi pertolongan
Apakah malam-malam di kota suci ini punya makna?
Adakah air mata kesedihan yang mengalir
setiap mengenang belahan jiwa akan mengering di padang pasir ini
Memandang sorak sora jari-jemari yang saling bersilangan
Seperti anyaman tikar yang berjejer di atas gunung-gunung kecil kota Mekkah
Dan matahari pagi bangkit kembali dengan mempersembahkan satu sahaja kemenangan
Atas kesedihan yang telah meranakan jiwaku....
Akankah kemenangan itu untukku ya Rabbal Ka'bah ?!
(Mekkah, 8 Agustus 2014)