Oleh: Pigeon
Keinginanku utuk berubah tak pernah berhenti
Sampai putik bunga dihinggapi lebah madu
dan cicit anak burung berbunyi menyambut induknya
dan badai aleksa datang lagi di gurun sahara ini
Kan kutunggu datangnya malam-malamku
Yang menjelmakan jiwa ini menjadi kupu-kupu
terbang bebas di alam maya
Mengelilingi gurun pasir yang berlapis salju
Lalu sekejap mata menjadi hijau rerumputan
dan oasespun bercahaya di mana-mana bak mentari
Ya Rabbal Kabah
Kirimlah angin sejuk itu di ujug-ujung sayap ini
dan tebanglah terbang membawa semua harapan ini ke taman surgawi
Hanya untuk mengecup kuncup keabadian
Agar ia mekar di pelukanku untuk selamanya...
Makkah, 16.08.2014
Showing posts with label Sastra. Show all posts
Showing posts with label Sastra. Show all posts
Sunday, 17 August 2014
Musuh Dalam Selimut
Oleh: Afif Amrullah
Kau mengendap dan merayap
disaat kutertidur lelap.ku terbangun
kau berlari kemudian kau sembunyi.
Menyelinap ditempat gelap.bersunyi sepi dipakaian diri.
kau datang dengan tiba-tiba.
menerjang membabi buta.menerkam menusuk mangsa.
bergerilya disaat terjaga.
Tumpahkan darah disaat melepas lelah.kau pengecut!!!
menikamku didalam selimut.dasar silicik sejati,
melawan dkala ku tak sadarkn diri.hai kau sibau tengik!!!
aku menuntut balas atas apa yg kau reguk,
dikala kuberdiri ataupun duduk.
aku akan rebut kembali dari apa yang dulu ada pada diri.
Kau yg mulai kau kan kuakhiri.
hutang nyawa dbayar nyawa.hutang darah
Kan kutumpahkan darah!!!
Makkah, [21:25 17/08/2014]
(Mengenang hari pemberantasan 'tembayong' di 505)
disaat kutertidur lelap.ku terbangun
kau berlari kemudian kau sembunyi.
Menyelinap ditempat gelap.bersunyi sepi dipakaian diri.
kau datang dengan tiba-tiba.
menerjang membabi buta.menerkam menusuk mangsa.
bergerilya disaat terjaga.
Tumpahkan darah disaat melepas lelah.kau pengecut!!!
menikamku didalam selimut.dasar silicik sejati,
melawan dkala ku tak sadarkn diri.hai kau sibau tengik!!!
aku menuntut balas atas apa yg kau reguk,
dikala kuberdiri ataupun duduk.
aku akan rebut kembali dari apa yang dulu ada pada diri.
Kau yg mulai kau kan kuakhiri.
hutang nyawa dbayar nyawa.hutang darah
Kan kutumpahkan darah!!!
Makkah, [21:25 17/08/2014]
(Mengenang hari pemberantasan 'tembayong' di 505)
Terkirim dari Samsung Mobile
Labels:
Sastra
Monday, 11 August 2014
Taman Kegalauan
Oleh: Pigeon
Jalan petang ini nampak bercabang
terbentang bak pohon jerami yang dimakan sapi
Berlari menyusuri oases dan gurun pasir Saudi
Bergulung-gulung di bawa angin membubung tinggi
Menembus awan sepi
Kulihat teman-temanku yang gundah gulana di sudut jalan dekat taman
Dan kain-kain hitam yang berjalan dalam pencarian
Hewan-hewan modern yang berlari kencang menjauh dekati taman
Lalu jasadku terpancang di antara tiga batang kawan
Menghirup manisnya jus kegalauan
Sambil kutatap dalam-dalam ufuk cakrawala senja
Berharap ada pelangi yang tersisa buatku
Dan menerima pohon kurna sebagai nasib ini
Yang tak dapat kupetik, kusentuh tanpa harap, dan kubuang tanpa tempat
Hingga kumaknai taman ini sebagai sebuah taman
Yang dciptakan untuk melepas kepenatan
Dan penghibur bagi musafir yang berlalu
Adakah taman ini diriku
Ataukah dirimu kawan?
Mekkah, 11/08/2014,
Dengan ucapan terimakasih buat Om Ardi atas traktir jusnya.
Jalan petang ini nampak bercabang
terbentang bak pohon jerami yang dimakan sapi
Berlari menyusuri oases dan gurun pasir Saudi
Bergulung-gulung di bawa angin membubung tinggi
Menembus awan sepi
Kulihat teman-temanku yang gundah gulana di sudut jalan dekat taman
Dan kain-kain hitam yang berjalan dalam pencarian
Hewan-hewan modern yang berlari kencang menjauh dekati taman
Lalu jasadku terpancang di antara tiga batang kawan
Menghirup manisnya jus kegalauan
Sambil kutatap dalam-dalam ufuk cakrawala senja
Berharap ada pelangi yang tersisa buatku
Dan menerima pohon kurna sebagai nasib ini
Yang tak dapat kupetik, kusentuh tanpa harap, dan kubuang tanpa tempat
Hingga kumaknai taman ini sebagai sebuah taman
Yang dciptakan untuk melepas kepenatan
Dan penghibur bagi musafir yang berlalu
Adakah taman ini diriku
Ataukah dirimu kawan?
Mekkah, 11/08/2014,
Dengan ucapan terimakasih buat Om Ardi atas traktir jusnya.
Labels:
Sastra
Kalaku Menunggumu
Oleh: Pigeon
Kala kududuk di kursi penantianmu
Sekuntum kuningmu bersandar di saku bajuku
Bayang-bayang sayap raksasa mengibas angkasa
Mengayun-ayun membidik mangsa
O burung-burung dara kecil yang malang
Masih adakah celah untuk bersembunyi dari mata-mata yang jalang
Adakah sarang untuk membaringkan badan
Dan meneduhkan hati yang gundah gulana
Berharap keamanan dan keselamatan
Ya Baitullah-i-lharam,
Kuingin kembali menatap wajahmu
Sambil menengadahkan do'a
Allahumma antas Salaam
wa minkas Salaam
Wa ilaika ya'uudus Salaam
Fahayyina Rabbana bis Salaam
Ya Allah Engkau adalah Kesejahteraan
Dan dari Mu lah kesejahteraan
Dan kepada-Mu lah kembali kesejahteraan
Maka hidupkanlah kami Wahai Tuhan kami dalam kesejahteraankan
Mekkah, Juni 2014
Kala kududuk di kursi penantianmu
Sekuntum kuningmu bersandar di saku bajuku
Bayang-bayang sayap raksasa mengibas angkasa
Mengayun-ayun membidik mangsa
O burung-burung dara kecil yang malang
Masih adakah celah untuk bersembunyi dari mata-mata yang jalang
Adakah sarang untuk membaringkan badan
Dan meneduhkan hati yang gundah gulana
Berharap keamanan dan keselamatan
Ya Baitullah-i-lharam,
Kuingin kembali menatap wajahmu
Sambil menengadahkan do'a
Allahumma antas Salaam
wa minkas Salaam
Wa ilaika ya'uudus Salaam
Fahayyina Rabbana bis Salaam
Ya Allah Engkau adalah Kesejahteraan
Dan dari Mu lah kesejahteraan
Dan kepada-Mu lah kembali kesejahteraan
Maka hidupkanlah kami Wahai Tuhan kami dalam kesejahteraankan
Mekkah, Juni 2014
Labels:
Sastra
Kemarahan
By Pigeon
Satu kali saja kemarahanku berdiri
Membuatku terduduk di meja
Mataku menatap nanar dan jari telunjuk menekan tombol start
Besi tigaduapun berputar membentu lekukan permintaan
Satu kali kemarahanku di sore itu
Membuatku mengulurkan tangan
Meminta maaf dan berpelukan ala Pakistan
Lalu kuterbang meluncur pulang
Menembus keramaian pengunjung Haram
Dan mengobati rasa haus dengan mereguk air Zamzam
Kuberlari mencari gunung-gunungku
Dan inspirasi itu tertutupi kabut debu
Lalu kubertanya taman Husainiyah/ Aziziyah
Adakah siapa untukku
Dan dimanakah lagi kata-kata puitis itu?
Sejak semula kusandarkan bahuku di taman
Lalat-lalat kecillah yang berdatangan
Mengecup tubuhku dan baju celana putih yang lekat debu
Surban hitam yang kotor ini biarlah
Menyelimuti kepalaku bersama kemuraman
Malam-malam yang pasti datang
Diiringi gema kumandang azan
Mekkah, 1 Juni 2014
Satu kali saja kemarahanku berdiri
Membuatku terduduk di meja
Mataku menatap nanar dan jari telunjuk menekan tombol start
Besi tigaduapun berputar membentu lekukan permintaan
Satu kali kemarahanku di sore itu
Membuatku mengulurkan tangan
Meminta maaf dan berpelukan ala Pakistan
Lalu kuterbang meluncur pulang
Menembus keramaian pengunjung Haram
Dan mengobati rasa haus dengan mereguk air Zamzam
Kuberlari mencari gunung-gunungku
Dan inspirasi itu tertutupi kabut debu
Lalu kubertanya taman Husainiyah/ Aziziyah
Adakah siapa untukku
Dan dimanakah lagi kata-kata puitis itu?
Sejak semula kusandarkan bahuku di taman
Lalat-lalat kecillah yang berdatangan
Mengecup tubuhku dan baju celana putih yang lekat debu
Surban hitam yang kotor ini biarlah
Menyelimuti kepalaku bersama kemuraman
Malam-malam yang pasti datang
Diiringi gema kumandang azan
Mekkah, 1 Juni 2014
Labels:
Sastra
Saturday, 9 August 2014
Mencari Nafkah
Oleh: Afif
Semangatmu berlipat ganda dalam mencari nafkah di tempat berkah
Tumpahkan keringat di bawah mentari yang menyengat
Moga bergugurlah dosa tiada yang tersisa
Makkah, 9/8/2014
Semangatmu berlipat ganda dalam mencari nafkah di tempat berkah
Tumpahkan keringat di bawah mentari yang menyengat
Moga bergugurlah dosa tiada yang tersisa
Makkah, 9/8/2014
Labels:
Sastra
Friday, 8 August 2014
Sudut Ruang Penghambaan
by Afif
Apakah yang engkau harapkan
dari gurauan tipu daya dunia yang kenimkatannya main-main
Kisah ceritanya main-main penuh sandiwara
Kebahagiaan yang telihat bukan berarti keceriaan hati ia dapat
Kesedihan yang terasa besok kan sirna
Kebahagiaan sekarang pasti lenyap hilang
Siang berganti malam
Pagi lenyap kembali sunyi
Gundah gelisahnya hati yang punya setitik iman
dikarenakan lari dari sudut ruang penghambaan
Adakah di sudut dunia tempat mencari ketenangan?
Sampai masa kupergi jua???
Mekkah, 8 Agustus 2014
Apakah yang engkau harapkan
dari gurauan tipu daya dunia yang kenimkatannya main-main
Kisah ceritanya main-main penuh sandiwara
Kebahagiaan yang telihat bukan berarti keceriaan hati ia dapat
Kesedihan yang terasa besok kan sirna
Kebahagiaan sekarang pasti lenyap hilang
Siang berganti malam
Pagi lenyap kembali sunyi
Gundah gelisahnya hati yang punya setitik iman
dikarenakan lari dari sudut ruang penghambaan
Adakah di sudut dunia tempat mencari ketenangan?
Sampai masa kupergi jua???
Mekkah, 8 Agustus 2014
Labels:
Sastra
Azam
by Supri
Semoga Allah merahmati azam selama ia mau bersusah payah berdiri
Bila malam menyelimuti ia seakan mati
Namun hatinya hidup penuh zikir
Di sana ada kaum yang hidup
namun hati mereka mengeras mengeras (mati) dalam kelalaian
#
Kuperlhatikan di bumi ini
Penuh dengan pernak-pernik kehidupan dan segala kelengkapannya
Namun pandanganku lalu mengarah ke atas langit
Dimana hanya ada awan, langit, dan bulan di malam hari
(Matahari di siang hari), serta bersama jutaan bintang
yang memancarkan kemilaunya
Walau demikian di atas langit sana lebih tenang
Seumpama kubisa mempersembahkan sujud ini
Kepada Rabbul 'Alamin
Andaikan aku punya sayap
Kukan terbang jauh mengelilingi angkasa,
Melihat begitu indahnya penciptaan-penciptaan ini
Seraya menyitir firman-Nya
"....Apakah tidak engkau fikirkan? "
(Q.S. Albaqoroh: 44)
Mekkah, 8 Agustus 2014
Semoga Allah merahmati azam selama ia mau bersusah payah berdiri
Bila malam menyelimuti ia seakan mati
Namun hatinya hidup penuh zikir
Di sana ada kaum yang hidup
namun hati mereka mengeras mengeras (mati) dalam kelalaian
#
Kuperlhatikan di bumi ini
Penuh dengan pernak-pernik kehidupan dan segala kelengkapannya
Namun pandanganku lalu mengarah ke atas langit
Dimana hanya ada awan, langit, dan bulan di malam hari
(Matahari di siang hari), serta bersama jutaan bintang
yang memancarkan kemilaunya
Walau demikian di atas langit sana lebih tenang
Seumpama kubisa mempersembahkan sujud ini
Kepada Rabbul 'Alamin
Andaikan aku punya sayap
Kukan terbang jauh mengelilingi angkasa,
Melihat begitu indahnya penciptaan-penciptaan ini
Seraya menyitir firman-Nya
"....Apakah tidak engkau fikirkan? "
(Q.S. Albaqoroh: 44)
Mekkah, 8 Agustus 2014
Labels:
Sastra
Air Mata Kesedihan
Oleh: Pigeon
Di tengah-tengah lautan kebimbanganku
Malam-malam yang kelam menenggelamkan hatiku
Suara-suara manusia bersahutan menawarkan obat pelipur lara
Apakah bedanya pohon kurma yang tergegun seribu bahasa
Dengan pohon Bidara yang tumbuh di pinggir jalanan?
Bukankah di atas keramaian ada keramaian
Dan di dalam kesenduan ada kesedihan
Bawakanlah aku kabut dingin wahai merpati putih
Di hari-hariku yang penuh kegersangan
Sesungguhnya jiwa ini menjerit memohon belas kasihan
Tapi tak seorang juapun yang mengerti
Pada hamba yang merelakan diri dan menderita
Hari demi hari berjalan mundur
Menghantarkan pada suatu titik
Dimana tak ada lagi pertolongan
Apakah malam-malam di kota suci ini punya makna?
Adakah air mata kesedihan yang mengalir
setiap mengenang belahan jiwa akan mengering di padang pasir ini
Memandang sorak sora jari-jemari yang saling bersilangan
Seperti anyaman tikar yang berjejer di atas gunung-gunung kecil kota Mekkah
Dan matahari pagi bangkit kembali dengan mempersembahkan satu sahaja kemenangan
Atas kesedihan yang telah meranakan jiwaku....
Akankah kemenangan itu untukku ya Rabbal Ka'bah ?!
(Mekkah, 8 Agustus 2014)
Di tengah-tengah lautan kebimbanganku
Malam-malam yang kelam menenggelamkan hatiku
Suara-suara manusia bersahutan menawarkan obat pelipur lara
Apakah bedanya pohon kurma yang tergegun seribu bahasa
Dengan pohon Bidara yang tumbuh di pinggir jalanan?
Bukankah di atas keramaian ada keramaian
Dan di dalam kesenduan ada kesedihan
Bawakanlah aku kabut dingin wahai merpati putih
Di hari-hariku yang penuh kegersangan
Sesungguhnya jiwa ini menjerit memohon belas kasihan
Tapi tak seorang juapun yang mengerti
Pada hamba yang merelakan diri dan menderita
Hari demi hari berjalan mundur
Menghantarkan pada suatu titik
Dimana tak ada lagi pertolongan
Apakah malam-malam di kota suci ini punya makna?
Adakah air mata kesedihan yang mengalir
setiap mengenang belahan jiwa akan mengering di padang pasir ini
Memandang sorak sora jari-jemari yang saling bersilangan
Seperti anyaman tikar yang berjejer di atas gunung-gunung kecil kota Mekkah
Dan matahari pagi bangkit kembali dengan mempersembahkan satu sahaja kemenangan
Atas kesedihan yang telah meranakan jiwaku....
Akankah kemenangan itu untukku ya Rabbal Ka'bah ?!
(Mekkah, 8 Agustus 2014)
Labels:
Sastra
Thursday, 7 August 2014
Matahari Bangkit Lagi
by Afif
Matahari bangkit lagi yang menyingkap mendung dan mimpi
Karena kesulitan diiringi dua kemudahan
#
Berilah aku pesan yang menjadi satu kesan
Abadi dalam hidupku
Sedang perkataan yang menguntungkan adalah nasehat
#
Kiranya menunjukkan belalai
Lebih mudah dari pada menepuk dada sendiri
Gagak yang kau pandang tak pernah kau tangkap
Kalau begitu untukmu kuhadiahkan burung gereja
#
Untukmu yang berjiwa perindu
Tak ada gading yang tak retak
Tak ada gadis yang tak kau dapat
Tak apalah yang janda asalkan konglomerat
Matahari bangkit lagi yang menyingkap mendung dan mimpi
Karena kesulitan diiringi dua kemudahan
#
Berilah aku pesan yang menjadi satu kesan
Abadi dalam hidupku
Sedang perkataan yang menguntungkan adalah nasehat
#
Kiranya menunjukkan belalai
Lebih mudah dari pada menepuk dada sendiri
Gagak yang kau pandang tak pernah kau tangkap
Kalau begitu untukmu kuhadiahkan burung gereja
#
Untukmu yang berjiwa perindu
Tak ada gading yang tak retak
Tak ada gadis yang tak kau dapat
Tak apalah yang janda asalkan konglomerat
Labels:
Sastra
Subscribe to:
Posts (Atom)