Oleh: Pigeon
Mekkah ini penuh misteri. Yang pasti, dari waktu ke waktu, Mekkah adalah kota lembah perdagangan internasional. Setiap hari buah-buahan tersedia dari berbagai penjuru dunia. Di tempat kami bekerja, proyek perluasan Masjidil Haram, bahan material yang dipergunakan untuk membangun, seperti Marmer dari Yunani, lift dari Jerman, plywood dari Cina, dll. Sumber daya manusianya juga multikultural, dari berbagai belahan dunia seperti Amerika, Rusia, Anak benua, Asia Tenggara, Afrika.
Sekilas orang-orang di sini tidak senang lipstik, tidak suka dandanan kamuflase, baik di badan, di kantor, di rumah, dll. Masyarakatnya sangat 'jaim'.Tdak mudah bagi saya untuk menginsert kapasitas saya dalam tatanan mereka yang kaku. Mereka mengalir tapi bukan seperti sungai dengan suara gemericik. Mereka bak lautan yang tenang, tidak tahu persis arus di bawahnya apakah pegunungan ataukah palung.
Bacalah kisah Salman Alfarisi, pengembara asing yang menemukan kemuliaan di kota suci ini. Dan berhasil menginsertkan idenya dalam perang Khandaq. Sebelum menemukan kemulian bersama Rasul SAW, kisah hidupnya sangat memilukan. Beliau pernah sampai pada satu titik bak barang dagangan atau menjadi budak yang diperjualbelikan.
Selain Salman Alfarisi, masih banyak lagi profil pengembara lainnya pada era kenabian di kota suci ini, seperti Bilal bin Rabbah, dari Afrika, muazin Rasulullah yang suara terompahnya didengar Rasulullah SAW di surga. Kemudian ada Abdurrahman bin Auf, pengembara dalam kisah hijrah yang kemudian menjadi saudagar kaya raya dan meninggalkan banyak warisan ketika wafatnya.